“Jika dengan menukar kebahagiaanku dapat membuatmu bahagia, maka aku rela....”
Suatu pagi di sudut
kota Purwokerto
ELENA mengusap matanya pelan saat merasakan bahwa sinar matahari sudah
lebih dulu menerobos masuk ke dalam kamarnya. Alarm yang dipasangnya pukul 5 pun
hanya sebatas suara yang melintas dalam mimpinya semalam. Tidak biasanya dia
seperti ini, bangun siang dan bermalas-malasan saat hamster di kamarnya bahkan
sudah mendahuluinya sarapan. Sial, kenapa
aku ini. Seperti tidak ada semangat dalam diriku lagi, ucapnya dalam hati.
Pantas saja ia seperti ini,
rupanya hari ini tepat satu tahun setelah lelaki itu pergi ke bagian belahan
bumi lain– Hasfi– lelaki yang dahulu tak pernah lupa mengiriminya ucapan
selamat pagi dan selalu setia mengingatkan Elena untuk menjaga shalatnya.
Terkadang, justru hal sederhana yang menjadi alasan sebuah kebahagiaan. Apapun
itu, saat ini sudah tidak terdengar lagi suara yang menenangkan itu. Setiap ia
menatap cemas ponselnya dan berharap Hasfi menanyakan kabarnya justru para
operator yang lebih semangat meng-sms-nya,
seakan tahu bahwa saat ini Elena memang sedang kesepian.
Sementara itu, pagi yang sama di belahan bumi Purworejo
“Jangan lupa mandi terus sarapan
yaa..hehehe.” rupanya sms yang masuk ke ponsel Hasfi adalah dari Nadira–
perempuan yang kini dekat dengannya.
Pagi ini Hasfi ada meeting penting untuk membicarakan
bisnisnya yang dalam kurun waktu satu tahun ini sudah mencapai omset yang tidak
sedikit. Nadira adalah partner kerja Hasfi, sepertinya sedikit kikuk untuk
menyebutnya hanya partner kerja
sedangkan hampir setiap hari mereka tidak pernah absen untuk makan siang
bersama. Kalau cinta itu datangnya karena
terbiasa.. mungkin itu salah satu hal yang tidak diinginkan Elena.
GUBRAK! Berjejer buku yang ditata di almari sudut kamar Elena
terjatuh. Mendengar ada yang tidak beres Elena segera mendatangi kamar dan
mendapati buku-bukunya berserakan di lantai yang baru saja dibersihkannya. “Ada-ada
saja pake jatuh segala...loh ini
kan?” Seketika aktifitasnya terhenti
mendapati sebuah amplop biru dengan selembar kertas di dalamnya.
“Ketika nanti kamu sudah menemukan penggantiku.. sampaikan padanya untuk
selalu mengingatkanmu akan tiga hal: Jangan tinggalkan shalatmu, Jangan tidur
larut malam dan Jangan pernah membiarkan senyum di wajahmu hilang”- sepenggal
kalimat yang Ia baca acak dari kertas itu. Rupanya itu surat terakhir dari
Hasfi..seperti kata-kata yang sama persis dia ucapkan sebelum mereka berpisah.
Ia memegang erat kertas yang sudah lusuh itu dan tanpa sadar terbawa
lamunannya...
“DOR..!”
“Astaga kamu ngagetin aku! Dasar nyebelin!” – gumam Elena yang
sebal karena dikagetkan oleh kedatangan Hasfi, lelaki yang sudah ia tunggu dari
tadi.
“Sebal kok senyum-senyum gitu?”
“Jangan mulai! Gak lucu tau!”
“Seperti biasa. Kamu selalu sensi
dan marah gak jelas. Tapi itu yang bikin aku selalu dan selalu kangen kamu...” –
ujar Hasfi seraya mendekat ke arah Elena.
“Tumbenan kamu bisa ngegombal. Hahaha. Kesambet jin mana?”
Hasfi hanya tersenyum tanpa
sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sepertinya Elena menangkap sebuah kode
yang tidak sengaja Hasfi lemparkan kepadanya.
“Ada masalah apa? Tanya Elena lirih.
“Enggak ada, aku cuma kangen kamu
aja kok...” Hasfi kemudian duduk di bangku tepat di sampingnya.
“Kita udah sama-sama selama dua tahun. Aku tau kamu baik-baik aja atau
lagi nyimpen sesuatu. Tolong kasih tau aku.” Nada suara Elena mulai lemah,
ia cemas terhadap Hasfi.
“Satu hal yang perlu kamu tahu
bahwa aku juga gak ingin ini terjadi. Tapi aku tidak mau jadi anak yang egois,
aku ingin punya masa depan yang cerah.. dan memilikimu adalah salah satu dari masa
depanku”.
“Kamu kok ngomongnya muter-muter? Tell me, what’s goin’ on dear?”
“Ayahku dapat tender untuk
menangani proyek dan aku diminta untuk mengurusnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Proyek itu bukan di sini, dan permasalahannya adalah aku gak mau jauh dari kamu
Elena.. Aku sudah jelaskan pada Ayah untuk menangani proyek di sini saja tapi
Ayah menolak, aku bisa bertahun-tahun di sana dan aku tidak mau kamu bosan
menungguku”. Hasfi menatap ke dalam mata Elena dan ia temukan segurat kesedihan
di dalamnya.
Elena menarik nafas panjang,
sepertinya untuk sepersekian detik aliran darahnya terhenti dan jantungnya juga
berdetak lebih cepat. “Ketahuilah, jika
aku bisa menukar kebahagiaanku dengan kebahagiaanmu..maka aku rela”. “Pergilah, dan jadilah anak yang berbakti
kepada orang tua seperti yang selalu kamu katakan padaku.. Aku tidak mau
menjadi penghalang masa depanmu.” Elena berlagak seolah ia baik-baik saja,
ia tidak mau Hasfi tau bahwa hatinya hancur pada saat itu juga.
“Kamu ngomong apa? Kamu tau aku
tidak mau ninggalin kamu...”
“Kalau gitu, aku yang akan ninggalin kamu.” Elena memalingkan
wajahnya, bukan karena ia marah pada Hasfi. Tapi ia tak mau Hasfi melihat
matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Aku pernah diceritakan tentang
sulitnya hubungan jarak jauh, aku tidak bisa menjanjikan kapan akan kembali dan aku tidak mau kamu bosan menungguku di
sini. Aku tidak mau egois dengan menjadi penghambat kebahagiaanmu.
Elena...carilah penggantiku.”
Seakan petir menyambar ke dalam
batin Elena saat itu juga. Percakapan macam apa ini, Ia bahkan tidak pernah
menginginkan hal ini terjadi walau di dalam mimpi. “Tenang saja.. aku akan cari pengganti yang lebih baik darimu, lebih
tampan dan lebih sering ngucapin selamat pagi ke aku..” Perih. Itulah yang
dirasakan Elena saat mengatakan hal ini kepada Hasfi. Karena hatinya
benar-benar tau kalau tidak ada lelaki lain yang diinginkannya selain dirinya.
“A..Apa?? K..Kamu?? Elena.. a-aku
hanya bisa berpesan. Jaga dirimu baik-baik. Temukan pengganti diriku dan
sampaikan padanya untuk selalu mengingatkanmu akan tiga hal: Jangan tinggalkan
shalat, Jangan tidur larut malam dan Jangan pernah Ia biarkan senyum di wajahmu
hilang...Maaf aku tidak bisa menjadi orang yang melakukan hal-hal itu lagi. Tidak
bisa mengucapkan selamat pagi untukmu, Tidak bisa mengingatkanmu untuk tidak
begadang nonton bola dan... Aku akan sangat merindukan hal-hal itu.. merindukan
kemarahanmu juga...” Suara Hasfi dan raut mukanya menunjukkan kalau
sebenarnya Ia tidak rela melepas Elena untuk lelaki lain...manapun.
“Aku tau...jaga dirimu baik-baik”. Ucap Elena singkat, karena Elena
sudah tidak tau harus bicara apa. Ia tidak mau air mata yang ia tahan akan
membanjiri tempat itu jika ia keluarkan.
Pelukan singkat dari keduanya
seperti tanda bahwa perpisahan mereka benar-benar terjadi, ini bukan mimpi. Jika hanya ada 10 lelaki baik hati di dunia
ini, aku yakin kamu adalah salah satunya. Dan sekarang kamu bukan milikku lagi.
Gumamnya dalam hati sembari melihat Hasfi mulai menjauh dari pandangannya.
~~~
ELENAAAA!!!! Teriakan ibunya yang membawa Elena kembali dari
lamunannya. Tanpa sadar kertas itu telah basah...ternyata air mata Elena
menetes perlahan di kertas itu. Mengingatkannya pada kenangan masa lalunya. Dan
jika ada dosa terindah..adalah saat melepaskan Hasfi pergi demi masa depannya. Menerima
kenyataan bahwa setelah satu tahun kepergian Hasfi, Elena tidak pernah siap
membuka hatinya untuk lelaki lain... walaupun Jafran selalu berusaha untuk
membuatnya bahagia.
TO BE CONTINUED ...
Bagaimana kelanjutan kisah Elena
dan Hasfi dengan hadirnya sosok Nadira? Apa yang akan dilakukan Elena dengan
kehidupannya? Apa dia akan memutuskan untuk....”Move On”? Lalu siapa sosok
Jafran? Apakah dia dapat menggantikan posisi Hasfi di hati Elena? Nantikan
kisah selanjutnya..... lebih banyak kejutan!!! =)
*Cerpen ini terinspirasi dari
kisah sahabat saya, Elga Maulina Putri yang sudah bertahun-tahun ini mengalami
pergulatan dalam hatinya...*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar